Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
choijohansen7:   Followers: 0 ; Following: 0


Penjelasan Aqiqah Merujuk Agama Islam



Pendapat bahasa ‘Aqiqah artinya: memotong. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang secara penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama bagi hewan yang disembelih, disebut demikian karena lehernya dipotong Ada pula yang menyiarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang tersembunyi pada kepala si budak ketika ia keluar mulai rahim permulaan, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, atau 21. Jumlahnya 2 upaya untuk bocah laki-laki dan 1 sudut untuk momongan perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak balita tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi sebutan dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bocah perempuan tunggal kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dijalankan karena kemunculan bayi, jadi sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Daripada ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sempat ber ‘aqiqah untuk Rancak dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, sira memberi nama dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, pada AI-Mustadrak surah 4, sesuatu. 264]

Keterangan: Hasan serta Husain ialah cucu Nabi SAW.

Daripada Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Rancak, dia mengatakan: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada manusia miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih dalam hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Patokan Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Imam Malik, warga Madinah, Kepala Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lazimnya ulama terampil fiqih (fuqaha).

rekomendasi website Dasar yang dipakai per kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan percik darinya selekeh (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Sidang: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah titah, namun meski bersifat wajib, karena siap sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban adalah: “Barangsiapa diantara kalian ada yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, jadi silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang menggerakkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh di dalam aqiqah tersebut hewan yang picak, renyah, patah urat, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam fauna aqiqah tersebut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan pada qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami di masa jahiliyah apabila lengah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Oleh karena itu setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami merebahkan membantai kambing, menyikat (menggundul) penyelenggara si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud perkara 3, hal. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang momongan, mereka melumuri kapas secara darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur sabut si budak mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berfirman, “Gantilah kebiasaan itu beserta minyak wangi”.[HR. Putri Hibban beserta tartib Putri Balban bab 12, sesuatu. 124]

Menunaikan aqiqah dari segi kesepakatan para ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW berkata, “Seorang bujang terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka di hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) buat dasar bujukan, maka takut-takut menyembelih di dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah sempurna. Karena sendi ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana petuah Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini menurut sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai secara hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi seri. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan sama At Tirmidzi)

Dan bila tidak sanggup melaksanakannya dalam hari ketujuh, maka siap dilaksanakan dalam hari ke empat belas kasihan, dan jikalau tidak dapat, maka saat hari ke dua puluh satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah atas ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih di hari ketujuh, ke 4 belas, dan ke 2 puluh mono. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga ahad masih tidak mampu oleh karena itu kapan pula pelaksanaannya dalam kala sudah mampu, sebab pelaksanaan di dalam hari-hari di tujuh, ke empat belas kasihan dan ke dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. Dan boleh pula melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Bayi yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, lebih dari itu meskipun bayi yang keguguran dengan tuntutan sudah berusia empat bulan di dalam perut ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada bapak si balita. Namun apabila seseorang yang belum di sembelihkan satwa aqiqah sambil orang tuanya hingga ia besar, maka dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh sebab itu hal ini tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran. Jika tidak bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas kasihan. Dan jika tidak bisa pula, maka di hari ke-2 puluh tunggal. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi pikulan ayah.

Namun demikian, jika ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia mampu melakukan aqiqah sendiri dalam saat dewasa. Satu tatkala al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyongsong, “Menurutku, bahwa ia belum diaqiqahi ketika kecil, oleh sebab itu lebih baik melakukannya sendiri saat mendalam. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menilai demikian. Dari segi mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang-orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Total Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal adalah satu sudut baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain tunggal domba satu domba. ” (Hadits shahih riwayat Serbuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Aku harus tegak bahwa Rancak dan Husain adalah budak kembar. Oleh sebab itu pada tunggal kelahiran ini disembelih 2 ekor kambing.

Namun yang lebih superior adalah dua ekor untuk anak laki-laki serta 1 sudut untuk budak perempuan menurut hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor kambing dan daripada anak cewek satu termuda. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor kambing yang cocok dan daripada anak dara satu upaya. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang anak

1. Disunnatkan untuk melepaskan nama serta mencukur rambut (menggundul) pada hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir saat hari Mono-, ‘aqiqahnya mati pada hari Sabtu.

dua. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang untuk anak dara 1 upaya.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan lawan orang tua si anak, namun demikian boleh juga dilakukan sama keluarga lainnya (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah ini hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Ataupun Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor wedus untuk bani dan wahid ekor wedus untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan melarat miskin pula bisa dikasih kepada sosok non-muslim. Apalagi jika sesuatu itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya serta dalam rancangan dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi merampas orang nista, anak yatim, dan terpidana, dengan sanubari senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, terpidana pada ketika itu adalah orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga juga boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Di masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa menghitung apakah pelupuk mata atau puan, sebagaimana tambo di kaki gunung ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia sudah bertanya lawan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka ceramah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor wedus dan untuk anak perempuan satu upaya kambing. Gak menyusahkanmu indah kambing itu jantan ataupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum meraih dalil lainnya yang menunjukkan adanya hewan selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW berdasarkan dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 semenjak kelahiran budak tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Akan halnya dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, serta mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat & tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan boleh mengundang teman-teman dan moyang untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan segenap. Syaikh Putri Bazz berkata: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya & memasaknya lalu mengundang orang-orang yang tuan lihat layak diundang mulai kalangan macam, tetangga, sohib2 seiman serta sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, & hal sedarah dikatakan sama Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi jika ada siratan antara makna sebuah identitas dengan yang diberi sebutan. Hal ini ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang memproklamasikan hal tersebut.

Dari Debu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam pamor berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan serasa nama-nama itu diambil atas makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui buah nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang lawan Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bertingkah laku keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang indah untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban wali. Di antara nama-nama yang cantik yang menarik diberikan ialah nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Atas Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik menurut ajaran Islam, silahkan kelompok:

Memberi Identitas Bayi alias Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Memotong rambut merupakan anjuran Rasul yang super baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru menyembul pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpenjara dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menyampaikan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan argentum seberat sabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan dengan rata; tidak boleh seharga mencukur sebagian kepala & sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar pula sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Artinya: Dengan seri Allah, akur Allah terimalah (kurban) daripada Muhammad & keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk anak ini secara kalimat Tuhan Yang Baik dari sekalian gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat memapah akibat buruk bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari sisi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di sebuah situs punya beberapa moral diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Yang mahakuasa SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Pada aqiqah ini mengandung point perlindungan mulai syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir tersebut, dan itu sesuai beserta makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terjamin dari seloroh syaithan yang sering mengocok anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah ialah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak saat hari perkiraan. Sebagaimana Kepala Ahmad menyiarkan: “Dia tergadai dari menganjurkan Syafaat untuk kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) mendapatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mereguk syukur bagi karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya si anak.

5. Aqiqah guna sarana menimbulkan rasa rewel dalam mengerjakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkukuh ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan tetap banyak sedang hikmah yang terkandung di pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Post by choijohansen7 (2017-01-19 20:50)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2019 - postbit.com